Jumat, 10 Mei 2013

CERPEN : LANGIT PENDENGARKU


Malam kian larut, tapi tugas sekolah belum juga terselesaikan. Azera, 17 Tahun, seorang siswi dari SMA 9 Jambi ini terus berusaha menyelesaikan tugas Sosiologinya. Sambil mata yang terkantuk, ia membuka buku halaman demi halaman untuk mendapatkan referensi jawaban dari setiap soal. Hingga terdengar suara sang ibu menyuruhnya segera tidur “ Zera, tidur nak! Hari kian larut. Besok kamu bisa kesiangan lho” Zerapun menanggapi omongan sang ibu, “Iya buk, ini udah selesai kok” jawabnya sembari menutup buku dengan tugas yang telah rampung terbuat.

Sebuah kebiasaan yang telah menjadi rutinitas Azera sebelum tidur, ia selalu membuka jendela kamar, sambil kepala sedikit menengadah keatas, ia berdoa pada sang maha kuasa dibawah indahnya langit yang seakan menyampaikan setiap doa. “Ya Allah kali ini ingin kusampaikan rindu pada Ayah, semoga ia selalu tersenyum dan melihatku dengan ceria dibalik bintang-bintang yang tersenyum lebar, Amiiin”. Harapan itu menutupi hari untuk berganti.

Fajar pagi membuka cakrawala tanpa malu-malu, sinar mulai terbentang menusuri BatangHari di penjuru Jambi. Sholat subuh yang telah terlaksana, membawa Azera pada sang ibu untuk membantu sedikit pekerjaannya. Sebagai janda dari seorang pensiunan Dinas Pariwisata Kota Jambi, sang ibu berusaha untuk membiasakan anak semata wayangnya itu untuk tidak bermalas2an. Walapun Azera termasuk diantara anak yang masih berkecukupan,tapi ia tidak memiliki sifat yang foya-foya namun cendrung bersahaja.

Tepat pukul 06.50 motor Mio miliknya telah parkir diperkarangan SMA 9 Jambi, ditemani langit yang berwarna cerah yang secara sengaja tau akan isi hatinya, ia menapaki koridor menuju kelas dengan senyum manis dibalik lesung pipi.  Tiba-tiba langkahnya terhenti saat seorang memanggilnya “Zera! Sini dulu, ada yang mau kenalan!” teriak Lusi, temen sebangku Azera dikelas. Seketika ia merubah arah berjalan ke tempat Lusi yang sedang berdiri bersama seseorang yang perawakanya itu bisa dikategorikan keren. “Ada apa? Ngagetin aja nih.” Tanyanya pada Lusi. “Ini, ada yang mau kenalan sama kamu” jawab Lusi yang hidupnya berjalan tanpa pernah basa basi. Tertegun, berpikir,mengingat, Ingatannya seakan mundur tepat satu minggu yang lalu dimana sebuah moment terjadi.

Seminggu silam bertempat di Mall WTC BatangHari, Azera telah dibantu oleh Adrie ketika motor yang ia kendarai mogok dipintu keluar Mall tersebut. Berawal dari Azera yang membeli barang di salah satu stand, dan ia berniat pulang setelah apa yang ia inginkan telah didapat.  Saat berjalan melalui eskalator menuju tempat parkir, matanya tak sengaja melihat sosok Adrie yang menawan. Tapi segala bayangnya saat itu, langsung tertepis tatkala kakinya sedikit tersandung diujung tangga itu. Begitu sampai di area parkir, ia mendapati motorya masih dalam kondisi baik. Tapi tak tau mengapa, saat ia mengendari hingga diloket pemberian karcis parkir, motornya mogok. Azera pun bingung, ia tak pernah mengerti akan hal detil mengenai motor dan komponen yang lain. Ditengah kepanikan mencari bantuan, tiba-tiba sosok Adrie datang layaknya montir ganteng yang diturunkan Tuhan untuknya saat itu.

Azera terus hanyut dalam flashback hingga tak menyadari kalau ada dua muka yang tengah memperhatikannya dari tadi. “Oy! Malah melamun sih!” sunggut Lusi. “Heehee Iya iyaa!” Jawab Zera. “Kamu yang waktu itu membuat motor aku menyala kan?” Tanya Zera pada Adrie. “Hmm, kalo gak salah sih gitu” Jawab Adrie tersipu. “Ohh, jadi kalian emang pernah ketemu toh, bagus deh kalo gitu. Ini ni zera, temen aku yang ceritain ke kamu kalo dia mau masuk sekolah disini” cerita Lusi.

Sejak itu, kedekatan Azera dan Adrie kian dekat setelah mereka bersebelahan kelas, intensitas bertemu kian dekat dan semakin akrab. Tak lupa ia selalu bercerita pada langit sebagai persinggahan setiap kejadian dalam dirinya, baik suka atau saat ia berlinang air mata. Seperti layaknya kini, hidup Azera bak ditumbuhi bunga-bunga dimusim semi, warna-warni menghisai setiap sudut sisi hatinya. Ternyata sosok Adrie telah mampu membuatnya tersenyum bahagia. Walau kata pacaran atau jadian belum terukir diantaranya, tapi tanda-tanda itu kian nyata.

Masih pada langit yang sama, ternyata ada sepasang bola mata yang terus memandang indahnya angkasa, yang tak lain adalah Adrie. Ia memiliki kebiasaan yang sama dengan Azera yang selalu mengadu pada langit. Seperti malam ini, ia memandang langit seakan menyapa gadis berlesung pipi, yang semakin menyiratkan kata cinta bila memandangnya. “Zera, tunggu aku ya, aku akan menyatakan diwaktu yang tepat. Semoga melalui langit ini, kamu tau akan rasaku. Pasti kamu sedang melakukan hal yang sama denganku sekarang” Bisik Adrie sembari beranjak tidur.

Pagi itu saat sarapan dirumah, Zera dibuat tersipu dengan pertanyaan ibunya. “Kamu akhir-akhir ini terlihat beda nak. Kamu kenapa? Jatuh cinta yah?” Goda sang ibu. “Aaah ibu bisa aja” Zera menjawab. “Ibu lihat kamu sering senyum-senyum sendiri, ayoo cerita. Siapa cowok itu?” Keponya. “Hmmm, namanya Adrie buk. Oya, ibu ingat gak dengan cerita saat motorku mogok di Mall WTC? Nah itu dia cowoknya buk.” Jawabnya dengan excited. “Ibu jadi penasaran, kapan dia kamu ajak main kerumah?” “Iiiih ibu, aku kan malu. Udah ah, aku berangkat dulu yah. Asalamualaikum” Sembari mencium tangan ibunya Azera berangkat kesekolah. “Walaikumsalam”.

Sinar siang semakin kuat menyinari Selincah dan sekitarnya, angin berhembus sepoi-sepoi membuat kesejukan dihati bagi yang menerima. Suasana di SMA 9 Jambi masih seperti biasa dengan segala aktivitas belajar dan mengajar. “drrrrrt,drrrrttt” hape Azera bergetar dan ia langsung membacanya “Nanti malam, kamu ada acara nggak? Aku mau main kerumah kamu. Trus ada yang ingin aku omongin sama kamu. Tunggu aku jam 07.00 yah wanita dengan senyum termanis J ”. Dengan hati yang kian berbunga, ia tersenyum manis membaca pesan itu. Waktu istirahat tiba, ia pergi kekantin bersama Lusi. Dijalan ia ketemu Adrie, namun ia berlalu dengan tertawa kecil. Seakan tak sabar menunggu waktu malam. Sekolah telah usai, Azera pulang ditemani suka cita, menunggu cinta yang akan disampaikan padanya. Memandang langit, ia bercerita bahwa sang pangeran impian telah tiba didepan mata, yang siap menyambut cinta pada layaknya. Can’t Wait!!

Malam yang ditunggu datang menyapa, dengan dandan yang sedikit berbeda, Azera tampil menawan rupa. Berdiri didepan kaca, lengak lengok kekanan kekiri agar terlihat sempurna bak Cinderella. Tepat pukul 07.00 , waktu yang tunggu telah tiba. Duduk diteras rumah, menanti sang calon pengisi hati. Sesekali tersenyum jika mengingat malam ini dijadikan tanggal cantik dalam Diary Love Azera.

Detik, menit, jam pun berlalu, tetapi Adrie tak kunjung sampai. Mata Azera tak pernah lepas dari arloji ditangan kirinya. Tegak, duduk, jalan mondar-mandir, ia lakukan demi melewati kebosanan menunggu. Pandangannya kelangit seakan ingin bercerita, atas apa yang terjadi saat ini. Waktu terus bergulir, cemas mulai menyelimuti hati dan pikirannya. “Kamu kemana sih, kok belum datang juga” bisiknya dalam hati. Tiba-tiba handphone dari dalam tas berdering, ternyata ada panggilan dari Lusi, “Hallo, ada apa Lus? Tumben malam-malam nelpon.” Dengan terbata Lusi menjawab diselingi isak tangis yang tersendu-sendu "Adrie ra, Adrie! Adrie udah nggak ada.” “Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti! Kenapa Adrie?” Jawab Azera dengan hati yang tak menentu. “Adrie meninggal, ia kecelakan saat menuju rumah kamu” Jelas Lusi. Seketika Azera bagaikan dihujam oleh runtuhnya langit yang menolak akan kebahagiannya. Ia terpaku, membisu, tak mampu berkata. Tangisnya pun pecah. Tak terima dengan kenyataan yang ada, sebegitu cepat kesenangan ini lekat dihati dan pikirannya.

Keesokan hari, setelah menghadiri pemakaman Adrie, Azera hanya bisa tertegun. Tetap diam tanpa kata, duduk termanggu dengan berlinang air mata. Sungguh kejamnya keadaannya yang menghempas Azera hingga ketitik nol, sama seperti ia ditinggal sang Ayah. Tak percaya itu pasti! Namun, sang ibu terus menguatkan hatinya agar tak terlalu terpuruk. Hingga ia sedikit tenang dalam pelukan sang ibu. Kini malam-malam Azera hanya ia habiskan dengan mencurahkan isi hati pada langit yang selalu tau cerita hidupnya. Harapan terus ia panjatkan, untuk menemukan titik yang lebih terang dikemudian. Yang ia tau, akan terus berdoa untuk sang Ayah dan Adrie agar tetap tersenyum di balik bintang yang bersebelahan.




Subscribe to Our Blog Updates!




Share this article!
Kembali Ke Atas
Powered By Blogger | Design by Trya Pamungkas