Minggu, 29 Desember 2013

JANGAN BIKIN GUE BETE!!

Bertumbuh dari rasa bosan, menyebalkan dan pedih hati.

Ingin sekali aku berteriak, “Jangan bikin aku bete!” – kepada apapun atau siapa pun yang hendak membuyarkan langkah langkah pastiku.
Hidup tak bisa dilihat dari satu sisi; dan itu aku sangat memahaminya. Namun, ketika kekhawatiran, kebosanan, juga kepedihan menghampiri hari-hari yang aku alami, sejujurnya, aku kadang harus “goyah” sebelum pada akhirnya, akupun menyadari bahwa aku harus bangkit. Hidup harus terus berjalan karena aku tak mau “mati” sebelum waktunya. Aku tak mau membiarkan diriku sendiri yang juga tak bisa hanya dilihat dari satu sisi ini “terpuruk terus menerus” ke dalam rasa khawatir dan bosan. Bahkan, bila kepedihan yang harus aku alami, tetep mencoba menikmati, rasakan dan telan kedasar hati.


~ Aku ‘Bete’ di Awal Hari

SEHARUSNYA, disaat pertama kali aku bangun pagi, aku harus mengucapkan syukur karena aku masih dberikan kesempatan untuk hidup. Inilah bentuk karunia pertama yang sangat nyata, yang seharusnya aku nikmati hari ini; bahwa aku masih dikaruniai napas untuk hidup, dan seharusnya mengucap syukur. Tapi mengapa aku lupa mengucap syukur? Ya, pikiran aku sudah duluan penuh memikirkan hal-hal yang membosankan yang akan aku alami, contohnya: berangkat kerja melalui jalan yang sama, macet dan langsung membuat mood jatuh. Harus bertemu dengan rekan kerja yang itu itu saja, bahkan ada yang menyebalkan. Atau mengerjakan tugas kerja yang sama setiap harinya.

“Hei, apakah kamu harus diserang rasa bosan seharian untuk hari yang indah ini?” tanya ‘sebuah suara’ yang seketika menampar kesadaranku. “Bangkitlah dan lakukan tindakan!!” jangan mersa bosan dalam mengisi aktivitasmu yang selalu setia menawarkan untuk menjemput kemenangan! Mulailah menguasai diri untuk terus melaju melanjutkan “perjalan hidup”, perjalanan hati dan perjalanan pikirkanmu. Lakukan hal yang beda pada hal yang sama, itu caraku.


~ Ceritamu Basi!

Ketika seseorang menceritakan pengalaman pribadinya atau mengisahkan suatu peristiwa yang berkesan kepada kamu, banggalah. Karena orang tersebut setidaknya menghargai , mempercayai kamu sebagai temen ceritanya

Suatu cerita bisa membawa banyak makna, namun sebaliknya, bila aku disuguhi cerita yang monoton,”tidak berkembang dan tidak menegangkan” yang membuataku ingin tahu lebih, ingin rasanya kau berteriak, “Aku bete, ceritamu basi!” Cerita yang dapat membuat kita bete itu bisa beragam asalnya,bisa dari tontonan televisi, tokoh idola patner , menerima cerita berulang dari orang disekitar dapat menjadi sumber ‘bete’ yang besar. Betul?

Nah, berpositif thinkinglah kawan. Seharusnya kamu, aku atau kita berterima kasih pada orang tersebut. Bisa jadi ia menceritakannya kepadamu dan tidak bercerita kepada yang lain. Karena kamu bukan sembarang orang yang ia pilih untuk mendengarkan ceritanya, terlebih cerita itu tergolong “rahasia”. Itu semua menunjukan bahwa kamu pribadi yang bisa menerima ungkapan perasaan orang lain. Percayalah jika ia tidak menhargai dan mempercayai kamu, tak satupun cerita yang keluar dari mulutnya. Demikian bukan? Ayoo terima cerita mereka dengan segenap hati dan persahabatan yang tulus.


~ Nggak Perlu Banyak Omong, Aku Udah Ngerti!

Setiap yang keluar dari mulut kita mencerminkan siapa diri kita, seberapa matang pribadi kita, seberapa cerdas kita mengolah kata, mengolah ide, dan memanfaatkan karunia pikiran yang telah kita terima.

SIAPA yang tahan berkomunikasi dengan orang yang banyak omong, tapi ‘kosong arti’? pasti aku akan ngerasa bete dan secepatnya ingin melarikan diri dari situ darpada harus mendengarkan ocehan yang tak perlu. Tapi itulah dunia disekitarku, banyak yang pinter ngomong, meski tidak menyadari bahwa mereka lebih baik diam.
Memang, obrolan atau percakapan yang positif tidak selamanya dalam suasana yang serius, atau aku lebih ngerasa kalo percakapan yang enteng, santai malah bisa ngebaiki mood. Mungkin sebagian dari kita lebih menyukai tipe obrolan yang nyantai, saling ledek, tapi tidak saling tersinggung satu sama lain. Bete bakal hilang.


~ Putus Cinta, Pedih Hatiku!

Dengan mencinta diri sendiri secara benar, Aku tetap merasa yakin bahwa “hidup ini masih oke oke aja kok”. Hidup ini masih asyik, rame dan masih bisa buat aku tersenyum, meskipun Aku ‘Bete’.

Seharusnya, alunan lagu yang romantis bisa bikin aku bahagia. Tapi ini kok nggak? Itulah yang sering menggelayut dalam hati seseorang saat ‘mengidap’ galau. Cerita ini sering aku terima dari sebagian temen yang sedang putus cinta. “yang sabar ya, semoga kamu tetep kuat, meski aku tau itu sulit untuk kamu lakuin” kata memberi semangat yang aku sendiri belum tau bisa melakukannya disaat aku diposisinya. Dan juga tidak yakin bahwa aku bisa membantunya keluar dari kepedihan yang ia alami. Kepedihan yang mendalam!
Rasa pedih putus cinta bisa menjadi suatu kesempatan untuk intropeksi diri, menata hati kembali yang ‘ancur’ dan membangkitkan semangat hidup yang belum sepenuhnya ‘terhenti’ karena luka batin yang sangat dalam. Seharusnya, putus cinta adalah sebuah penggalan pelajaran yang musti dimaknai dengan bijak, meskipun menyedihkan sih. Beragam bentuk putus cinta, karena ditinggal pacar, karena pasangan selingkuh, karena kekasih melakukan kebohongan besar, karena merasa tak dihargai, karena tak sanggup LDR, karena salah paham, karena udah nggak nyambung, dan karena sudah tak cinta lagi, hmmmm banyak ya, iya.
Oke, kalo udah begitu, sadarilah kita masih bisa mencintai diri sendiri, ditengah tengah ‘keringnya cinta’ dari sesama kamu, apapun itu kamu dan aku akan lebih baik lagi. Memang cinta adalah salah satu bentuk karunia yang bisa dinikmati setiap manusia, termasuk aku dan kamu. Kadang cinta harus menjelma dalam bentuk yang tidak kita sukai, karena kita merasa terluka dan bete karenanya. So, kita harus berpikir keras untuk menyiasati cinta.


~ Dukung Aku, Kenapa Sih?!

.....dan mulailah menyadari bahwa dukungan terbaik ternyata dukungan yang berasal dari dalam diri!

ADA satu hal yang berpengaruh dalam keberhasilan hidup kita: DUKUNGAN! Ya.Namun, sering kali aku merasa bete karena dukungan yang aku harapkan tak kunjung muncul, padahal saat itu aku membutuhkan pengertian dan dukungan. Bahkan, semangat hidup yang semulanya membara menjadi padam seketika karena dukungan yang sangat aku nantikan ternyata “bertepuk sebelah tangan” akupun kecewa. Kadang kala aku juga harus menelan rasa bete itu ketika orang-orang yang aku harapkan bisa memberikan dukungan terhadap langkah-langkahku, malah sama sekali tidak memahami maksudku. Bahkan, ada yang hanya bisa “tiarap” tanpa berbuat lebih dalam memberikan dukungan disaat aku membutuhkannya (NGGAK NGERTI KODE). Siapapun nggak bakal bisa menyangkal bahwa dukungan sangat penting dalam hidup kita. “Hei dukung gue dong, jangan Cuma bengong!!”

Nah guys, ini sedikit ulasan dari buku yang barusan aku baca. Judulnya “JANGAN BIKIN GUE BETE!” Buku ini cukup membuat aku sedikit bangkit dari malam minggu yang dijalani sendiri “jomblo”. Tapi no prbolem bagi aku sih.hihih *ngeles Yah walapun gak semua isi buku aku ceritak disini, tapi point besar dari buku ini cukup tersampaikan. Oke ya, mulai sekarang jangan gampa ng bete dengan hal hal yang masih bisa dicari jalan keluarnya. Kalo bete trus cepet tua lho...



 Sumber: Buku “Jangan Bikin Gue Bete” R. Herry Prasetyo
Read More




Senin, 23 Desember 2013

Kamu temen aku???

Good Friends Are Like Star You Don't Always See Them But You Know They Are Always There..

Ya begitulah perumpamaan yang tepat untuk seorang teman. Kamu setuju? Tapi itulah pendapatku. Maaf kalo kalian nggak.hehe
Aku rasa sih nggak ada alasan yang lebih tepat untuk kalian yang menolak istilah tersebut. Bagi mereka yang udah nemplok dihati kita sebagai temen baik, pasti kalian akan beranggapan yang sama. Oke ya, iya. Teman baik, bukan berarti harus selalu ada disamping kita, bersebelahan dengan kita, dan nggak mesti jalan bareng. Udah kayak, amplop dan perangko ataupun materai dan tanda tangan, yang terus nempel. Konsep teman bukan gitu, secara pribadi sih aku menilai keberadaan temen itu sebatas cara berkomunikasi. Yaiyalah, secara kalo nggak berkomunikasi bakal lose contact dan menghilang, apa itu temen? nggak. Memang gak dipungkiri kalo bertemu, ngobrol, dan duduk bareng menghabiskan waktu berjam jam untuk cerita doang adalah ritual paling asik. Trus, kalo nggak ketemu kalian nggak berkomunikasi gitu? Tinggal ngitung hari 2013 mau tutup ni ye, masih mau bilang kalo komunikasi itu susah? -__- Hellooooooo..... *plak

Ambil gadget, telpon temen, cerita panjang lebar, sampe nangis2an, peluk-pelukan kalo bisa, dan saling menasehati satu sama lain. Itu bisa meringankan sedikit beban kok. Temen tetep mendengar kan? Nggak mesti ketemuan bukan? Dan pointnya, temen masih selalu ada buat aku. Buktinya mereka masih pasang telinga untuk semua keluh kesah aku. Masih bisa ngasih jalan keluar, yah walaupun intensitasnya sangat kecil. Minimal teman bisa buat aku sedikit legah, kayak.......


Mendengarlah agar temen bicara, dan bicaralah agar teman mendengarkan..

Simbiosis mutualisme, aku bisa pastikan tujuan dari sebuah pertemanan adalah saling berbagi. Apapun itu bisa dibagi, contohnya keluh, kesah, gundah, gulanda, resah, gelisah, dilema, sedih, galau, duka, derita, nestapa, siksa, dan bahagia. Kebanyakan sih gitu, ngaku! 

Tapi nggak banyak diantara temen aku yang orangnya pendiem banget sampe2 masalah yang ia hadapi mesti di telen sendiri. Nggal bagus lho itu. Bener, nggak bagus buat badan, pikiran dan kesehatan. Jadi untuk memulainya, coba ajak ia mendengarkan cerita kita, kita ajak dia curhat dan dengarkan cerita-ceritaku, lalu minta tanggapan dan pandangannya. Kalo udah begitu, aku bakal todong dia dengan cerita hidupnya, sedikit maksa sih, tapi ini semuakan demi kebaikan dia juga kok. Saat itulah aku belajar menjadi pendengar yang baik. Belajar memahami setiap persoalan teman. Kan banyak pastinya, mulai dari hal cinta, keluarga, sodara, musuh, tetanga, bahkan sampe dengan kucing piaraannya beranak lima.

Temen bosan nggak ya dengar ceritaku terus?

Nah, sebenarnya ini pertanyaan yang selalu belum ada jawaban pasti. Yang ada jawaban basa basi. *jawaban tanpa basa basi ditunggu di coment yah*
Intinya dari semua yang aku tulis diatas, temen itu adalah "tempat". Bukan tempat tinggal, atau tempat pelarian. Temen adalah tempat berbagi. 

Setuju kan ya? ^^

Read More




Kembali Ke Atas
Powered By Blogger | Design by Trya Pamungkas